Iklan Hari lahir Pancasila

 


Keterpihakan Pengurus Rayon Warnai Penunjukan Ketua MAPABA Rayon Tarbiyah UIN STS Jambi 2026

Lintastimur.com - ​JAMBI - Rapat internal Pengurus Rayon Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Thaha Saifuddin (STS) Jambi yang digelar untuk menentukan arah pemilihan Ketua Masa Penerimaan Anggota Baru (MAPABA) Rayon Tarbiyah 2026 diwarnai ketegangan. Pertemuan yang berlangsung pada Rabu, 2 September 2026, sekitar pukul 16.00 WIB di sekretariat baru Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) tersebut menuai protes keras dari sejumlah kader akibat dugaan keputusan sepihak.

​Keputusan Otoriter dan Tanpa Musyawarah Forum yang dipimpin langsung oleh Ketua Rayon Tarbiyah, Tiara Bana Syarqiyah, bersama jajaran strukturalnya dinilai sejumlah pihak mengambil langkah yang otoriter. Pasalnya, penentuan figur pemimpin kaderisasi awal tersebut diputuskan tanpa melibatkan ruang musyawarah bersama Angkatan 2025. Padahal, angkatan tersebut dinilai memiliki hak penuh dalam menentukan sosok yang layak memimpin dan melanjutkan estafet kepemimpinan MAPABA 2026 yang diniatkan terlaksana pada Oktober mendatang.

​Sistem penunjukan langsung yang diterapkan oleh pengurus rayon turut memicu kekecewaan mendalam dari berbagai pihak di dalam forum.Ketegangan di Ruang Sidang Drama Nama "Muhammad"

​Suasana rapat mendadak berubah tegang dan memanas ketika pimpinan sidang mulai mengerucutkan nama calon. Ketegangan ini memuncak saat Ketua Rayon berulang kali hanya menyebutkan kata "MUHAMMAD" secara berkala tanpa langsung merinci nama lengkapnya.

​Situasi tersebut membuat para peserta forum berspekulasi. Sebagian besar peserta menduga figur yang dimaksud adalah Muhammad Akbar-sosok yang akrab disapa "Wooo" oleh rekan-rekannya-hingga memicu sorakan spontan di dalam ruangan.

​Namun, suasana langsung berubah menjadi hening seketika ketika nama lengkap yang diumumkan ternyata bukanlah figur yang santer diduga, melainkan Muhammad Ridho. Pengumuman tersebut dinilai di luar perkiraan sebagian besar peserta forum.

​Keputusan ini langsung mendapat kecaman tajam dari barisan kader yang tergabung dalam aliansi internal rayon. Sejumlah nama seperti Muhammad Akbar, Maulana, Fadhil Husni, Fauzan Daeng, Ibnu Arahab, hingga perwakilan kader perempuan, Silvi, secara terbuka melayangkan protes keras. Mereka menilai adanya indikasi kuat keterpihakan struktural pengurus rayon, khususnya sang Ketua Rayon, dalam proses penunjukan tersebut.

​"Seharusnya rayon membuka ruang musyawarah bersama angkatan '25, atau minimal ketua rayon turun langsung mendengarkan aspirasi terkait pemilihan ini," ungkap Sdr. Muhammad Akbar mewakili rekan-rekannya.

​Sebagai bagian dari keluarga besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII)—organisasi yang menjunjung tinggi nilai kaderisasi dan pengabdian kepada bangsa—mereka mendesak agar dilakukan evaluasi tingkat lanjut secara menyeluruh demi menjaga marwah organisasi.

​Menutup perdebatan di forum tersebut, Sdr. Muhammad Akbar menyampaikan seruan pergerakan​"Tunduk Tertindas atau Bangkit Melawan, Karena Mundur Satu Langkah Adalah Bentuk Suatu Penghianatan!"​Ilmu dan Bakti Ku Berikan, Adil dan Makmur Ku Perjuangkan.​SALAM PERGERAKAN! (Redaksi

Terkini